Benang-benang indah ini kemudian disusun rapat di alat tenun. “Klik, klak, klik, klak…” suara mesin itu seperti lagu kelahiran. Setiap hentakan membawa satu helai hidup baru. Benang-benang berpegangan, saling kait, membentuk pola. Dari ratusan benang, terbentuklah selembar kain utuh dengan pola dan corak khas yang memikat.
Angin sore berembus lembut di Ntobo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Di sebuah rumah panggung sederhana, suara “klik-klak” alat tenun tradisional berpadu dengan tawa para perempuan yang duduk berjejer di lantai bambu. Di tengah mereka, seorang perempuan muda dengan senyum hangat mengamati setiap helai benang yang ditenun menjadi motif indah. Dialah Yuyun Ahdiyanti, sosok di balik UKM Dina, yang kini menjadi salah satu penggerak utama kebangkitan tenun Bima di kancah ekonomi kreatif Indonesia yang semakin semarak.
Semangat Baru Untuk Melanjutkan Warisan Nenek Moyang
Bagi Yuyun, tenun bukan sekadar kain. Ia adalah warisan, bahasa budaya, dan identitas yang menyatu dalam kehidupan masyarakat Bima. Walau tertidur sejenak, warisan ini sempat meredup. Banyak penenun yang berhenti bekerja karena minimnya permintaan dan tidak adanya regenerasi. Yuyun yang sejak kecil akrab dengan tenun dari ibunya merasa jiwanya meronta-ronta terpanggil untuk berbuat sesuatu.
![]() |
| yuyunAhdiyanti menerima penghargaan Astra, dok. YouTube Astra |
“Kalau bukan kita yang melanjutkan warisan budaya ini, lalu siapa lagi yang akan menjaganya?” ucapnya suatu sore, sambil menggulung benang warna merah bata di tangannya.
Dengan tekad kuat, Yuyun mendirikan UKM Dina, usaha kecil menengah yang tidak hanya memproduksi kain tenun, tetapi juga memberdayakan para perempuan penenun di desanya. Dari sinilah perjalanan perubahan dimulai.
Menggelorakan Kembali Tenun Bima dari rumah ke rumah
Awalnya, Yuyun hanya memiliki dua alat tenun dan tiga orang penenun yang bekerja bersamanya. Ia berkeliling dari rumah ke rumah untuk mencari ibu-ibu yang bersedia kembali menenun. Tidak mudah dong, banyak dari mereka sudah beralih profesi menjadi buruh atau pedagang kecil. Namun Yuyun datang bukan sekadar menawarkan pekerjaan, melainkan harapan.
Ia mengajak mereka untuk bersama-sama membangun ekonomi keluarga lewat tenun. Sedikit demi sedikit, kepercayaan tumbuh. Kini, UKM Dina telah berkembang dengan menggandeng lebih dari 30 penenun lokal, sebagian besar perempuan, yang kembali aktif menenun di sela kesibukan urusan rumah tangga mereka.
Setiap kain yang dihasilkan bukan hanya bernilai ekonomi, tetapi juga sarat makna budaya. Motifnya antara lain Kakando, Nggusu Tolu, Nggusu Waru, B'ali Mpida, B'ali Lomba,Tagambe, kini kembali dikenal luas, bahkan sudah mulai diminati wisatawan yang datang ke Bima NTB.
Inovasi dan Sentuhan Modern
Yuyun sadar bahwa agar tenun Bima dapat bertahan di tengah persaingan industri mode modern, dibutuhkan sentuhan baru. Ia mulai berinovasi dan bereksperimen dengan warna alami dari tumbuhan lokal seperti daun jati, kulit mangga, dan biji kesumba untuk menciptakan palet warna yang ramah lingkungan.
Tidak berhenti sampai di situ, Yuyun juga menggandeng desainer muda untuk mengubah kain tenun menjadi produk fesyen siap pakai seperti, tas, selendang, outer, hingga aksesoris. Melalui inovasi ini, UKM Dina berhasil menembus pasar nasional dan mengikuti berbagai pameran ekonomi kreatif, bahkan sempat mewakili provinsi NTB di ajang nasional.
Inovasi Yuyun bukan sekadar demi tren, tetapi sebagai bentuk adaptasi yang menjaga warisan budaya lokal tetap relevan di masa kini. "Tenun itu bukan benda kuno, tapi karya yang bisa hidup di zaman modern,” ucapnya.
Pariwisata Bima Menggeliat Lewat Tenun
Bima tidak hanya terkenal dengan alamnya yang indah atau sirkuit Mandalika, tetapi juga kekayaan budayanya. Yuyun melihat peluang besar untuk menghubungkan tenun dan pariwisata. Melalui UKM Dina, ia mengembangkan program Wisata Edukasi Tenun, di mana wisatawan dapat datang langsung ke rumah produksi, belajar menenun, dan membawa pulang karya mereka sendiri.
![]() |
| Aneka kain tenun Bima di galeri UKM Dina, dok. iG @kaentenunbima |
Program ini menjadi daya tarik baru bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin merasakan pengalaman autentik. Tak hanya memperkenalkan tenun, kegiatan ini juga meningkatkan pendapatan masyarakat lokal. “Kami ingin tamu yang datang ke Bima bukan hanya melihat, tapi ikut merasakan bagaimana setiap helai benang punya cerita,” tutur Yuyun.
Dampak Sosial yang Nyata
Kini, dampak kehadiran UKM Dina terasa luas. Para perempuan penenun tak lagi bergantung sepenuhnya pada penghasilan suami. Mereka memiliki pendapatan sendiri, rasa percaya diri meningkat, dan anak-anak mereka mendapat pendidikan lebih baik.
Tidak hanya itu saja, Yuyun juga aktif memberikan pelatihan manajemen usaha dan pemasaran digital kepada para penenun muda. Ia ingin mencetak generasi baru yang tak hanya bisa menenun, tapi juga mampu menjual dan memasarkan produknya secara mandiri.
Hasil dari kerja kerasnya membuatnya terpilih sebagai penerima SATU Indonesia Awards 2024 Bidang Kewirausahaan. Penghargaan ini menjadi pengakuan atas ketekunan dan dampaknya dalam menggerakkan ekonomi kreatif berbasis budaya di daerah terpencil.
Menenun Masa Depan
Bagi Yuyun Ahdiyanti, kesuksesan bukan soal berapa banyak kain yang terjual, tapi seberapa banyak kehidupan yang berubah. Ia bermimpi agar suatu hari nanti tenun Bima bisa mendunia seperti batik dan songket. “Selama masih ada yang menenun, budaya ini tidak akan hilang,” ujar Yuyun dengan mata berbinar.
Kini, setiap helai tenun yang dihasilkan UKM Dina bukan hanya produk ekonomi, tapi simbol keteguhan hati perempuan Bima yang menenun asa, budaya, dan masa depan gemilang dari ujung timur Indonesia.


0 Comments